Showing posts with label Anak Brkebutuhan Khusus. Show all posts
Showing posts with label Anak Brkebutuhan Khusus. Show all posts

20150114

Konseling Bagi Anak Tunarungu

January 14, 2015 0 Comments
Yuhuuu~ Postingan kali ini, for the first time, ngebahas soal spesialisasi yang saya ambil sejak 2 tahun lalu. YUP! Tunarungu ^^!
Berikut ini adalah hasil translate dari dokumen yang diterbitkan The National Deaf Children’s Society
(NDCS) dan lembaga lainnya dan bisa diunduh secara gratis ^^ sebagian dari dokumen yang judul aslinya "Deafness and School Councelling" ini saya bagi disini :p
yuks cuss!!

***



Dalam rangka mempromosikan mental yang sehat, sangat penting bagi sekolah untuk memastikan bahwa layanan konseling telah disesuaikan dengan kebutuhan spesifik anak dan remaja tunarungu. Dengan begitu, murid tunarungu dapat dengan mudah mengakses layanan kapanpun atau jika mereka membutuhkannya.
Seperti anak-anak lainnya, anak tunarungu juga mengalami masalah emosional yang tidak berhubungan dengan ketunarunguan mereka. Bagaimanapun juga, yang penting adalah konselor peka terhadap ketunarunguan dan tantangan tertentu yang mungkin dihadapi anak dan remaja tunarungu.
Selanjutnya, sangat penting bahwa konselor sekolah mengerti cara berkomunikasi dengan anak tunarungu yang berbeda.
Tentunya setiap anak tunarungu berbeda dan pertemuan konseling perlu disesuaikan dengan kebutuhan komunikasi masing-masing anak. Dibawah ini ada beberapa poin yang dapat diperhatikan:
1.      Atur suasana dengan benar
Banyak anak tunarungu yang bergantung pada lip reading (membaca gerak bibir) dan mengeluarkan suara untuk berkomunikasi. Pencahayaan yang buruk dapat mengakibatkan lip reading sulit untuk dilakukan dan kebisingan dari luar dan gema dapat berdampak pada komunikasi. Maka dari itu, sangat penting untuk memastikan bahwa pencahayaan sudah baik dan tenang. Jika diperlukan tutup gorden jendela dan merubah posisi duduk untuk mendukung komunikasi. Dalam hal ini, konselor duduk di hadapan anak tunarungu.
Sebelum pertemuan konseling dimulai, konselor harus selalu bertanya apakah pencahayaan dan ruangan sudah sesuai.
2.      Membuat kontak mata
Konselor terkadang harus mengisi formulir atau membuat catatan selama pertemuan. Walaupun memutuskan kontak mata untuk membuat catatan biasanya tidak mengganggu interaksi dengan anak pada umumnya, hal ini dapat mengganggu alur percakapan dengan anak tunarungu bahkan dapat dianggap tidak pantas. Akan lebih baik jika menghindari membuat catatan saat sesi pertemuan. Alternatif yang dapat dilakukan adalah konselor dapat membuat perjanjian untuk mengambil jeda untuk membuat catatan singkat, walaupun ini masih dapat mengganggu alur pertemuan.
3.      Pendekatan visual
Sadarlah bahwa remaja tunarungu memiliki pendekatan visual terhadap lingkungannya. Oleh sebab itu, menggunakan teknik visual selama sesi pertemuan, seperti demonstrasi, video, bagan, dan papan tulis dapat sangat membantu. Namun, konselor harus berhati-hati untuk tidak berbicara saat tidak melihat anak atau saat anak sedang melihat ilustrasi visual.
4.      Tulislah!
Ingatlah bahwa membaca bibir atau menggunakan bahasa isyarat akan melelahkan. Hal ini dapat berakibat pada ingatan anak tunarungu tehadap informasi. Oleh karena itu, menulis semua kesepakatan/tindakan/keputusan dalam bahasa yang mudah dimengerti oleh anak untuk dibawa akan sangat berguna.
Hal itu juga akan berguna untuk menulis apapun yang ingin disampaikan baik konselor maupun anak. Teknik ini akan berguna bagi anak tunarungu yang tidak menggunakan bahasa isyarat dan kemampuan oral yang terbatas.
Namun, ingatlah bahwa pendekatan ini tidak sesuai untuk semua anak tunarungu. Beberapa anak tunarungu mungkin mengalami hambatan dalam bahasa tulisan. Dalam kasus ini, membuat gambar secara visual dapat lebih sesuai.
5.      Apakah terapis pada umumnya cocok untuk semua anak?
Banyak anak tunarungu harus berkonsentrasi keras untuk mengikuti percakapan oral, jadi pertimbangkan cara untuk menghentikan diskusi.
Dapat juga diingat bahwa beberapa anak tunarungu mungkin mengalami keterlambatan perkembangan bahasa dan mengakibatkan kesulitan dalam memahami deskripsi emosi. Oleh sebab itu, akan lebih baik jika disediakan beberapa kertas dan pensil warna untuk dipegang, sehingga anak dapat menggambar jika mereka kesulitan untuk mengekspresikan secara verbal sebuah kata atau emosi yang mereka rasakan.
6.      Pastikan asesmen yang digunakan sesuai dengan anak
Sangatlah penting untuk menyadari bahwa sejumlah asesmen terapi dan ukuran standar tidak dapat menyediakan asesmen yang berhasil untuk banyak anak tunarungu, meskipun sudah di terjemahkan ke dalam bahasa isyarat. Asesmen yang telah distandarisasi mungkin dapat digunakan untuk anak dengan pendekatan oral dalam pembelajaran, namun masih perlu disesuaikan untuk mengadopsi lebih banyak pendekatan terbuka untuk menemukan kebutuhan terapi. Akan sangat bermanfaat bila menghubungi seseorang yang lebih profesional dan berpengalaman dengan anak tunarungu.
7.      Pikirkanlah istilah untuk emosi anak
Sadarilah bahwa anak tunarungu mungkin mengalami keterlambatan dalam bahasa. Banyak anak tunarungu menyadari sebuah perasaan, namun kekurangan kosakata untuk menamai perasaan tersebut. Memahami dan mengidentifikasi perasaan dapat menyokong kapasitas anak untuk mengenali perasaannya sendiri dan orang lain, dan membantu mereka untuk mengatur emosi mereka dengan baik.

20140331

Bukan Curhatan Galau

March 31, 2014 0 Comments


Udah lama ga main tumblr, udah lama ga ngadmin, udah lama ga blogging...
Program Latihan Profesi, menguras tenaga, kantong dan waktu gue...
Siapa yang sangka klo gue harus ke sekolah setiap hari senin sampe sabtu, bangun subuh, berangkat pagi, pulang sore, begadang nyiapin bahan ngajar, beli ini itu buat media. Ga peduli bisa makan apa ga yg penting media ngajar tersedia dan ongkos ke sekolah ada. Tiap sore jadi harus nahan perut yang perih ~~
Sedih? Banget. Apalagi ga ada waktu buat mudik, buat lari sejenak dari rutinitas...
Udah 2 bulan ternyata, tinggal 2 bulan lagi PLP di SLB B ini. Masih kuat den? Masih, karena Tuhan yang mampukan~
Meskipun pusing harus ngajar semua mata pelajaran, galau karena hrs bisa ngajar dari kelas TK sampai SMA, kadang masih suka bingung karena ga ngerti apa yang anak2 sampaikan, tuntutan ini itu dr guru2, belom lagi tingkah anak2 yg mulai ngelunjak plus gue dan temen2 sempet dikasih jari tengah sama anak yg banyak tingkah *sigh*
Tapi walopun harus lari sana lari sini ngadepin 6 kurcaci unyu2 di kelas TK, kepala nyut2an ngadepin 5 bocah  di kelas 3b – kelasnya guru pamong gue, stress krn harus ngajarin masak kue tradisional yang belom pernah gue coba atau ngajar mengetik di mesin tik ~~, jd kakak pembina pramuka meskipun gue ikut pramuka Cuma sampe penggalang, tapi gue bersyukur masih bisa ketawa ngakak stiap hari. Entah sama anak yg banyak cerita meskipun ga jelas cerita apa, atau debat sama anak karena salah nangkep itung2an jajan kita di kantin.

kue tradisional "cenil" buatan anak2 kelas keterampilan

kaka pembina pramuka ~~

anak2 TK 1~
ini dia mereka anak2 IIIb~

PLP? fighting~!!

Yah~ biarlah PLP ini jadi pengalaman, pembelajaran dan cerita manis di masa depan ^^
Fighting deniaaa ‘-‘)9
GBU

20101124

Dyspraxia

November 24, 2010 0 Comments
Baru tau kalo Daniel Radcliffe yg udah saya idolakan dari jaman saya masi SMP klas 1 trnyata menderita DISPRAKSIA ringan.. dan setelah saya search, ternyata dispraksia adalah gangguan yang menyulitkan seseorang untuk mengkoordinasi dan melakukan suatu gerakan tertentu dan gerakan tubuh. berikut adalah sedikit keterangan mengenai dispraksia

orang sering kali salah mempersepsikan dan mengartikan ketika menemui anak-anak yang sukar berbicara atau mengeja umumnya dianggap sebagai disleksia padahal mungkin dapat saja yang terjadi adalah sebenarnya anak tersebut mengidap dispraksia. Dispraksia pada umumnya masih terasa asing di telinga orang Indonesia, namun bukan tidak mungkin kasus dispraksia juga terjadi pada anak-anak di Indonesia.

Sekitar 10 % anak-anak di Inggris mengalami dispraksia dan 2 % diantaranya mengalami dispraksia yang parah. Menurut penelitian ada satu diantara 30 anak dalam 1 kelas yang mengalami dispraksia. Dispraksia sering kali dikelirukan sebagai disleksia yaitu : kesukaran untuk membaca, menulis atau mengeja dan sering kali diikuti dengan masalah lain seperti ketrampilan pengorganisasian yang buruk.

Dispraksia mungkin juga dianggap dengan ADD (Attention Deficit Disorder), ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) atau Discalculia yaitu : kesukaran untuk menangkap konsep-konsep dalam matematika. Padahal sebenarnya, dispraksia mencakup masalah yang lebih luas dan bervariasi.

1. Pengertian Dispraksia

Dispraksia berasal dari kata “Dys” yang artinya tidak mudah atau sulit dan “praxis” yang artinya bertindak, melakukan. Nama lain Dispraksia adalah Development Co-ordination Disorder (DCD), Perceptuo-Motor Dysfunction, dan Motor Learning Disability. Pada jaman dulu lebih dikenal dengan nama Clumsy Child Syndrome. Menurut penelitian, gangguan ini kadang diturunkan dalam keluarga dan gejalanya tumpang tindih dengan gangguan lain yang mirip misalnya disleksia.

Menurut penelitian secara medis, dispraksia adalah gangguan atau ketidakmatangan anak dalam mengorganisir gerakan akibat kurang mampunya otak memproses informasi sehingga pesan-pesan tidak secara penuh atau benar
ditransmisikan. Dispraksia mempengaruhi perencanaan apa-apa yang akan dilakukan dan bagaimana melakukannya.

Hal ini menyebabkan timbulnya kesulitan dalam berpikir, merencanakan dan melakukan tugas-tugas motorik atau sensori.

Menurut Belinda Hill, speech pathologist di Australian Dyspraxia Support Group and Resource Centre Inc. di New South Wales, dispraksia bukanlah gangguan yang terjadi pada otot dan gangguan kecerdasan walaupun akibatnya mempengaruhi kemampuan berbahasa dan pengucapan. Masalah dispraksia terjadi ketika otak mencoba memerintahkan untuk melaksanakan apa yang mesti dilakukan, namun kemudian sinyal perintah otak itu diacak sehingga otot tidak dapat membaca sinyal tersebut. Keluarga yang hidup dengan anak dispraksia sering kali biasanya tidak menyadari kondisi anak dengan segera. Hal ini menyebabkan anak dispraksia mempunyai kepercayaan diri yang rendah akibat gangguan yang dideritanya dan kekurangtahuan keluarga. Anak dispraksia juga rawan terhadap gangguan depresi serta mempunyai kesulitan dalam emosi dan perilaku.

Gejala-gejala Dispraksia

Pada bayi

Dispraksia sering ditandai dengan sedikit atau tidak adanya ocehan. Ketika mulai belajar bicara, huruf konsonan yang diucapkannya sangat sedikit.

Pada anak usia 3 – 5 tahun (usia pra sekolah)

- Aktivitas motorik yang sangat tinggi termasuk mengayun-ayunkan kaki dan menghentak-hentakan kaki ketika duduk, bertepuk tangan atau menari.

- Tangan mengembang ketika berlari.

- Kesukaran mengayuh pedal sepeda roda tiga atau mainan serupa.

- Ketrampilan motorik halus yang jelek, misal sukar memegang pensil atau menggunakan gunting.

- Kurang melakukan permainan yang imajinatif.

- Mengalami kesulitan berbahasa yang terus menerus.

- Respon terbatas pada instruksi lisan apa saja.

- Terlambat berguling, merangkak, berjalan.

- Sukar menyesuaikan diri saat beralih ke makanan padat.

- Sukar melangkah, memanjat, menyusun puzzle, mempelajari ketrampilan baru secara insting dan lambat mengembangkan kata-kata.

- Sulit berbicara dengan jelas dan kesulitan menggerakkan mata sehingga lebih suka menggerakkan kepalanya daripada menggerakkan matanya.

Pada anak yang lebih besar (usia sekolah)

- Kesulitan dalam berkata-kata maupun mengekspresikan diri.

- Sebagian anak dispraksia terlalu sensitif terhadap sentuhan.

- Sukar mengingat instruksi dan menyalin tulisan dari papan tulis.

- Tidak dapat menangkap konsep seperti : “di bawah”, “di atas”, “di dalam” atau “di luar”.

- Mengalami kesukaran dalam memakai baju, menalikan sepatu dan menggunakan garpu atau pisau.

- Keseimbangan badan yang buruk, sulit belajar naik sepeda.

- Kemampuan membaca yang rendah dan buruk dalam menulis.

- Sebagian anak dispraksia mengalami articulatory dyspraxia yang menyebabkan mereka mengalami kesulitan dalam berbicara dan mengeja.

2. Pengertian Developmental Verbal Dyspraxia (DVD)

Developmental Verbal Dyspraxia (DVD) adalah suatu kondisi bicara yang dihasilkan dari ketidakmatangan pada bagian otak yang mngurusi tentang bicara. Anak mengalami kesulitan dalam membuat bunyi suara yang konsisten karena
daerah bicaranya tidak dapat mengirim pesan-pesan yang konsisten pada perangkat bicara. Dalam hal ini adalah lidah, bibir, laring, dan sebagainya.

Developmental Verbal Dyspraxia (DVD) juga dikenal sebagai : Apraxia of Speech, Developmental Apraxia of Speech, Apraxia, Dyspraxia, dan Developmental Articulatory Dyspraxia. Label-label yang berbeda ini dapat menimbulkan
kebingungan tetapi memiliki arti kondisi bicara yang sama.

Gejala-gejala DVD

- Ketrampilan menerima bahasa yang normal atau di bawah rata-rata tapi terjadi penundaan ketrampilan mengekspresikan bahasa.

Contoh : Anak-anak mengerti atau memahami lebih baik daripada saat dia berbicara.

- Pada beberapa tahun pertama terjadi perkembangan bicara yang sangat lambat.

- Adanya regresi dalam berbicara, seperti contoh : kata-kata yang sudah dipelajari menjadi hilang.

- Terjadinya kemajuan dalam berbicara pada saat dia mendapatkan usia yang lebih tua.

- Secara keseluruhan terjadi ketidakkonsistenan bunyi-bunyi bicara pada permulaan tahun-tahun pertama, seperti contoh : setiap kali anak diminta untuk berbicara suatu kata, dia melakukannya dengan cara yang berbeda (adanya penekanan pada kata atau pronounced yang berbeda).

- Bunyi atau suara tercetak dalam polanya sendiri dan tidak berhubungan sama sekali dengan perkembangan bicara yang “normal” dimana anak-anak yang lain mengalaminya.

- Kekonsistenan bunyi bicara terjadi secara bertahap.

3. Global Dyspraxia

Ada pula anak-anak yang menderita global dyspraxia dimana gejala-gejalanya adalah :

- Pada saat bayi mengalami hipotonia yaitu dimana perkembangan sel-sel yang terlambat.

- Mempunyai kontrol yang sangat lambat.

- Mempunyai refleks menghisap yang sangat lemah seperti pada saat baru lahir, hal ini mungkin mengindikasikan kesulitan pada saat menyusui.

- Kemampuan untuk duduk yang sangat lambat.

- Kemampuan berjalan yang sangat lambat.

- General Clumsiness pada gross motor skills.

4. Terapi untuk Anak Dispraksia

Sebagai suatu sistem pendidikan untuk anak-anak dengan gangguan motorik, Conductive Education mengajarkan bagaimana untuk “break down” kemampuan dan ketrampilan yang mereka coba untuk ditampilkan. Dengan keberhasilan, keyakinan, dan kepercayaan diri yang meningkat, mereka dapat melatihnya dalam kehidupan sehari-hari.

Anak dispraksia kurang efektif jika dimasukkan dalam kelas khusus untuk anak-anak yang mengalami kesulitan belajar.
Yang dibutuhkan oleh anak-anak dispraksia adalah terapi satu lawan satu yaitu suatu terapi dimana satu orang anak dispraksia ditangani oleh satu orang fisioterapis atau speech pathologist. Mereka butuh penanganan dan dukungan
profesional secara teratur termasuk juga dukungan dari pendidikan yang dijalani.

Anak dispraksia biasanya dapat disembuhkan tergantung dari tingkat keparahannya. Ada kemungkinan kambuh beberapa kali tapi tingkat kesukaran dalam koordinasi gerakan akan semakin menurun. Anak juga bisa sembuh sendiri namun lebih lambat dan tidak seefisien jika ditangani oleh terapis.

sumber : http://fadhilaharif.multiply.com/reviews/item/19

20101029

pendidikan ABK 1. Anak tunagrahita

October 29, 2010 2 Comments
PENDAHULUAN

Individu tunagrahita seringkali salah dipahami oleh masyarakat yang tidak betul-betul memahaminya. Banyak orang awam yang menganggap bahwa anak tunagrahita adalah anak yang mengalami gangguan jiwa. Hal ini didasari oleh kenyataan bahwa individu tunagrahita sering menunjukkan sikap yang aneh dan perilaku yang tidak sesuai dengan umurnya.
Dalam laporan ini, akan dijelaskan masalah sebenarnya yang dihadapi oleh anak tunagrahita. Sehingga dapat memberikan pemahaman lebih mengenai anak tunagrahita.

KONSEP ANAK TUNAGRAHITA
Kekeliruan pemahaman yang terjadi di masyarakat mengenai anak tunagrahita disebabkan oleh perilaku anak tunagrahta yang aneh dan tidak sesuai dengan umurnya. Dengan kata lain, terdapan kesenjangan antara kemampuan berpikir (mental age / MA) dengan perkembangan usianya (chronological age / CA). Sebagai contoh, anak tunagrahita yang berumur 16 tahun menunjukan tingkah laku seperti anak berumur 5 tahun.
Ketunagrahitaan adalah suatu kondisi yang kompleks, yaitu karena kemampuan intelektual yang rendah dan adanya hambatan dalam perilaku adaptif. Perilaku adaptif adalah kemampuan seseorang dalam memikul suatu tanggung jawab sosial sesuai dengan perkembangan usianya. Anak tunagrahita mengalami hambatan pada kemampuan menolong diri dan keterampilan dalam hubungan interpersonal serta kemampuan dalam menggunakan fasilitas yang diperlukan sehari-hari.
Berdasarkan perkembangan kognitif, anak yang disebut tunagrahita jika IQ nya berada dibawah angka 70 atau kemampuan kecerdasannya menyimpang 2 sampai 3 simpangan baku(rata-rata IQ 100 dengan simbangan baku 16). Berikut adalah pengelompokan anak tunagrahita berdasarkan penyimpangan kamampuan kecerdasannya :
1 Tunagrahita ringan (mild) : 2-3 simpangan baku
2 Tunagrahita sedang (moderate) : 3-4 simpangan baku
3 Tunagrahita berat (severe) :4-5 simpangan baku
4 Tunagrahita sangat berat (profound) : 6 keatas

HAMBATAN PADA ANAK TUNAGRAHITA
Berikut adalah hambatan – hambatan yang dialami oleh anak tunagrahita :

1 HAMBATAN BELAJAR
Anak-anak pada umumnya memiliki kemampuan kecerdasan rata-rata sehingga memiliki kemampuan untuk menemukan kaidah dalam belajar. Sementara anak tunagrahita tidak memiliki kemampuan untuk menemukan kaidah dalam belajar. Mereka mangalami apa ynag disebut cognitive deficite yang tercermin pada salah satu atau lebih proses kognitif seperti perseppsi, daya ingat, mengembangkan ide, evaluasi, dan penalaran.
2 HAMBATAN PENALARAN
Individu tunagrahita mengalami hambatan dalam memahami dan mengartikan norma lingkungan. Hal itu disebabkan karena adanya kesenjangan antara MA dengan CA anak tunagrahita . semakin dewasa anak tunagrahita, maka semakin lebar jenjang tersebut.

3 HAMBATAN DALAM PERKEMBANGAN BAHASA
Anak tunagrahita pada umumnya mengalami gangguan atau kesulitan bicara, dimana individu mangalami kesulitan dalam mengartikulasikan bunyi bahasa dengan benar. Mereka juga mengalami gangguan bahasa dimana seorang anak mengalami kesulitan dalam memahami konsep kosakata, kesulitan memahami atura dan gramatikal dari bahasa yang digunakan. Anak tunagrahita lebih banyak mengalami gangguan bahasa dibandingkan dengan gangguan bicara.
4. MASALAH KEPRIBADIAN
Ciri kepribadian seseorang dipengaruhi oleh factor yang melatarbelakanginya yaitu:
1 Isolasi dan Penolakan
Anak tunagrahita cenderung tidak punya teman sehingga mereka menjadi tersingkir dari pergaulan sosial. Semakin ia ditolak oleh teman sebaya, maka ia akan semakin mengembangkan cara pergaulan yang salah.
2 Labeling dan Stigma
Pemberian label tunagrahita merupakan suatu bentuk diskriminasi yang dapat menimbulkan kesan buruk (stigma) terhadap anak tunagrahita.
3 Stres Keluarga
Keluarga merupakan factor yang sangat penting dalam membentuk pribadi anak. Orang tua yang memiliki anak tunagrahita kemungkinan akan mengalami perasaan bersalah atau kekecewaan yang mendalam. Akibatnya orangtua mungkin akan menolak kehadiran anak tersebut atau memberikan perlindungan yang berlebihan. Sikap seperti itu dapat menimbulkan masalah emosi pada anak tunagrahita.
4 Frustasi dan Kegagalan
Anak tunagrahita tidak dapat melakukan tugas-tugas yang dituntut kepada mereka dengan baik. Akibatnya anak tunagrahita cenderung mengalami banyak kegagalan dan frustasi dan hal tersebut juga sangat berpengaruh pada perkembangan kepribadiannya.

5 Kesadaran Rendah
Anak tunagrahita memiliki kesadaran yang rendah terhadap emosinya. Mereka umumnya memiliki perasaan tidak berdaya untuk melakukan sesuatu atas keinginannya sendiri, melainkan harus ada dorongan dari orang lain. Anak tunagrahita kebanyakan tidak mampu mengontrol emosi mereka. Oleh sebab itu anak tunagrahita biasanya ditandai dengan perilaku irrasional dan kecemasan yang berlebihan.

PENDIDIKAN BAGI ANAK TUNAGRAHITA
Pada saat ini, pendidikan bagi anak tunagrahita masih bersifat formal. Kurikulum yang digunakan cenderung bersifat akademik dan tidak memperhatikan hambatan yang dialami peserta didik. Guru Sekolah Luar Biasa yang mengajar semata-mata hanya untuk mencapai target pengajaran. Sehingga proses belajar menjadi sangat kering.
Pendekatan pengajaran yang digunakan oleh guru adalah dalam bentuk abstrak. Padahal peserta didik tunagrahita kurang mampu memahami hal abstrak. Seharusnya guru manggunakan media pembelajaran.
Guru seharusnya melihat hambatan yang ada pada anak tunagrahita dan menentukan pengajaran yang tepat untuk anak didiknya dan guru tidak menentukan target nilai yang harus dicapai anak didik, melainkan melihat perkemangan yang sudah dicapai oleh peserta didiknya.

KESIMPULAN
Anak tunagrahita bukanlah anak yang mengalami gangguan jiwa. Melainkan anak yang memiliki hambatan dalam kemampuan kecerdasan dan kemampuan adaptif. Kemampuan mental anak tunagrahita berkembang lebih lambat daripada perkembangan usianya, sehingga mereka terlihat aneh karena melakukan hal-hal yang tidak tepat pada usianya. Perkembangan mental anak tunagrahita tetap dapat berkembang, tetapi akan sangat lambat. Mereka juga mengalami banyak hambatan karena kecerdasannya yang dibawah rata-rata dan ketidak mampuannya dalam bersosialisasi dengan lingkungannya.
Seharusnya pendidikan bagi anak tunagrahita tidak terlalu formal dan bersifat akademik. Para guru seharusnya melihat hambatan yang dialami anak didiknya dan menentukan pendidikan yang layak untuknya.

SARAN
Setelah kita mengetahui mengenai anak tunagrahita, sudah sepantasnya kita tidak memandang sebelah mata lagi kepada mereka, karena itu dapat berpengaruh terhadap perkembangan kepribadiannya.

see more here: